jalang2meng ed1 - fun trip to celebes island

whoooaaaa, finally!
itulah kata pertama yang saya gumamkan setelah selesai mengupload 74 foto ini di draft tumblr. tepat pukul 3 dini hari saya mulai menuliskan sedikit cerita terkait gambar-gambar yang saya unggah ini. sama seperti perjalanan ke pulau sulawesi yang akhirnya tercapai juga. whoooaaaa, finally! XD

kitab kuning modal minjem
perjalanan ini dimulai dari tanggal 27 Maret hingga 1 April 2013. kebetulan pelaksanaan trip ini bersesuaian dengan urusan ngajuin jadwal pendadaran di kampus yang terpaksa saya tunda seminggu karena emang dasar udah kebelet pingin merefresh mata, hati dan pikiran setelah sekian bulan berkutik dengan BAB I sampai VI pluuuus segudang kerjaan yang ga ada habis-habisnya. Dua minggu sebelumnya saya mendapat email dari kelas inspirasi makassar bahwa saya terpilih menjadi salah satu fotografer di event tersebut. alhasil langsunglah saya mempersiapkan trip dadakan ini dengan penuh suka cita. yeaaaay!
berangkat dengan penerbangan pukul 6 pagi, saya pun mendapati sunrise dari lapangan terbang adi sutjipto, cukup tuk memberi semangat mengawali perjalanan seminggu kedepan. saat lepas landas, terlihat merapi dengan puncaknya yang malu-malu dibalut kabut, tak lama kemudian perlahan-lahan tampak gunung merbabu menyembul dari balik merapi, terbias paparan cahaya mentari pagi, ah mereka tampak sangat serasi dan indah sekali. saya menyukai penerbangan ke arah utara jogja ini, haluannya berbeda dengan perjalanan ke barat yang biasa saya lakukan. Jogja memang istimewa, seperti kota dan para penduduknya :)
1,5 jam di udara tak menghapus minat saya tuk terus menatap dari tepi jendela, jarang sekali saya melewatkan pemandangan indah yang nilainya sangat berharga seperti apa yang saya dapatkan kemarin. Dan memang setiap solo trip saya selalu request untuk duduk di sebelah window saat check in, lumayan, pemanasan mata sebelum terjun ke surga dunia yang sesungguhnya.. hehe

pak gugun - sudah mengidam naik bentor sejak lahir.
setibanya di makassar, sudah ada mas gugun yang telah menanti 3 jam di bandara sultan hasanuddin, entah kenapa ini orang niat banget pake acara nungguin saya di bandara, yang jelas pas udah ketemu berarti udah teken kontrak buat jalan-jalan nyasar. Aga kareba ! haha
tujuan pertama mengarah ke daerah todopulli 1, yaitu rumah yang akan kami singgahi selama 3 hari. Alhamdulillah sekali salah satu rekan sesama fotografer kelas inspirasi makassar yaitu mba Chya mau menumpangi kami dan mau direpotkan dengan segala kekonyolan kami. ampun ibu kooooos :P
kunjungan selanjutnya yaitu silaturahmi ke rumah puang di mappanyukki 3, nah ini panas-panas kita disasarin orang untuk kedua kalinya, alhasil yang mestinya cuma jalan sakslepetan malah kita berboros ria dengan naik becak, tapi alhamdulillah proses silaturahmi tetap berjalan lancaaaar, kami pun ketemu puang plus diajak jalan-jalan muterin makassar. yihaaaaaa! :D

nah ini tempat pertama yang kami kunjungi, yaitu benteng somba opu, tapi letaknya bukan di jalan somba opu. sebenarnya kalau kawasan ini dirawat lebih baik sama pemda setempat, maka kawasan benteng ini akan terlihat lebih menarik daripada TMII karena di sana ada miniatur rumah adat dan warisan budaya khususnya untuk Sulawesi Selatan dan Indonesia pada umumnya.

oke, sampai sekarang saya masih belum bisa membedakan sapi dan kerbau. tapi kalau boleh nebak, gambar di atas itu gambar sapi kaaan? :s

selanjutnya kami menuju benteng fort rotterdam. sangat jomplang ye sama somba opu, maklum, kalo rotterdam perawatannya dibiayai Belanda.. *syedih*

kita masuk ke museum la galigo, kebetulan lagi ada pameran di sana. Di sini kami kembali menyelusuri sejarah kerajaan-kerajaan di Sulawesi, mengamati karya fenomenal I Lagaligo beserta silsilahnya. Cerita tentang turunan manusia setengah dewa hingga kisah pelayaran yang dilakukan sang ayah, yaitu Sawerigading yang sempat mendaratkan kapal phinisinya di tanjung bira.

Sore hari tiba, tak jauh dari rotterdam kami diantar kembali menuju pantai losari. Menurut cerita, sunset di lokasi ini merupakan sunset terbaik kedua di dunia, dan alhamdulillah akhirnya saya bisa menikmati senja terindah dalam tahun ini, dan semakin sempurna dengan menyempatkan ucap syukur pada Tuhan serta beristirahat sejenak menikmati angin khas Makassar di atas masjid terapung dari sudut pantai Losari.

Tak henti-hentinya kami bersenda gurau sampai akhirnya perut mulai keroncongan. Cukup menyusuri tepi pantai beberapa langkah, kami sudah mulai disuguhi jajanan kuliner yang kian menggoda. Tujuan utama tentu saja menyantap pisang epe yang sudah saya idam-idamkan sejak tahun lalu. hehe

Sembari memuaskan lidah dengan kuliner Makassar yang nikmatnya tiada tara, saya pun mulai mempelajari kosa kata khas sana. Biasanya masyarakat menyebut beberapa kata dengan akhirannya tersendiri yang tidak memiliki aturan baku penggunaannya. Seperti sudah mi, belum pi, atau iya ji (ini saja entah benar atau nggak, hihi) sama seperti bahasa Jerman yang memiliki das, di dan der yang penggunannya sesuai kecocokan tertentu. Nah, si Gugun mulai sota (baca : sotoy) bilang kalau seluruh kata yang berakhiran ‘n’ dibaca ‘ng’ dan sebaliknya seperti ‘angin mamiri’ jadi ‘anging mamiri’ yang diterusin sama dia, kalau menyebut ‘makan’ jadi ‘makang’, ‘pulang’ jadi ‘pulan’ sehingga akhirnya tercetuslah perjalanan ini dinamai dengan trip JALANG2MENG! yang berasal dari kata JALAN-JALAN MEN, niatnya sih mau niru acaranya MalesBangetDotCom yang diperankan oleh Jebraw dan Naya, jauh abeeeeeeees yaaaak! haha

Keesokan harinya adalah hari ini yang menjadi alasan kenapa saya terbang ke Makassar, yaitu menjadi relawan di kelas inspirasi. Tiba-tiba saja kaki saya sudah berada di ruang kelas dikelilingi siswa bercelana atau rok merah dan bersepatu hitam polos seperti saya 10 tahun yang lalu. Menatap kepolosan anak-anak di bangku SD membuat saya rindu akan masa-masa tanpa pencitraan seperti dulu.. :))






Saya bergabung dengan tim 1 yang ditempatkan di SD Inpres Tamamaung I dan III. Tim ini sungguh luar biasa, saya terkagum-kagum dengan para pengajar, rekan fotografer dan videografer juga para panitia. Dedikasi mereka patut diancungi jempol. Bukan hanya heboh mengurusi minat anak-anak yang tetiba membuncah, tetapi dikerubungi untuk dimintai tanda tangan juga jadi cerita unik tersendiri, terutama bagi dua orang pemain PSM yang turut berpartisipasi di tim kami yaitu mas Rahmat dan mas Hendra. Masih muda sudah menginspirasi. Begitu juga dengan para pengajar yang lain seperti Bapak Mayor Laut G. Siswanto, mba Tenri, Mam Lia, serta Pak Amir. Tim fotografer dan videografer tak kalah keren, mondar-mandir dari satu kelas ke kelas lain untuk mendokumentasikan kegiatan istimewa tersebut selama setengah hari, ucap salut untuk Chya, Gorby, Icang, dan Ka Dimas. We made it guys! :))

Malam harinya kami menyempatkan ketemu mamas Angki yang kebetulan subuhnya bakal langsung mudik ke Jakarta padahal dia baru pulang dari Kendari. yang paling berkesan dari Angki adalah„ hmm„ ditraktir ikan bakar bumbu parape di RM Losari. itu enak banget kiiiiiii! thanks yaaa :D
Setelah seharian seru di sekolah keesokan harinya kami langsung menuju Pulau Samalona, sekitar 45 menit menyeberang dari pelabuhan pantai Losari. Selamat datang di surga pertama… hehe



ceritanya lagi belajar levitasi..


Mas Wisnu, yang berbaik hati menjaga lapak.. :))


1… 2…. 3…..

Yuhuuuuuuuuuuuuu! XD



bisa banyangkan proses pengambilan gambarnya gimana? mereka menyelinap ke bawahku dan tetiba nafas mereka habis sedangkan posisi mereka persis di bawahku. what theeee….. ? X))



“padahal aku cuma pingin liburan…”

“lalu aku coba mencari teman buat jalan-jalan..”

“yang kudapati malah yang beginian… ” -Gugun
Seharian penuh di Samalona belum menjadi klimaks perjalanan kami. Esok sorenya kami lanjut menuju Tanjung Bira dengan merental mobil temannya Chya plus menghubungi teman dari temannya Chya yang lain yang punya cottage di sana. Kalau sudah rejeki emang ga kemana, alhamdulillah dapet potongan harga dari mana-mana, dapat kenalan baru yang baik-baik pula.. :))
Trip ke Bira ini kami lakukan berlima, yaitu Gugun, Icang, Chya, Edi dan saya. Setelah menyelusuri jalanan selatan Sulawesi di malam hari selama 4,5 jam dengan bonus razia dua kali karena malam minggu dan khawatir ada yang membawa shabu shabu ke lokasi wisata tersebut, kami dapati suasana liburan yang sempurna. Angin dari pesisir pantai serasa mengawe-ngawe untuk mengajak kami menikmati malam di atas pasir terhalus sedunia, dengan bintang bertaburan di langit, juga bulan purnama. klise sekali. haha

Nyaris tak tidur, subuh harinya kami langsung menuju puncak Pua Janggo untuk meraih sunrise dengan berjalan sekitar 1 km diantar warga setempat yaitu Mas Indis. Sungguh, seperti tayangan ulang dengan berganti pemeran, saya merasa seperti sedang berada di salah satu cerita dari novel Tahta Mahameru, epic sekali.

Ketika turun, sejenak kami menghampiri Goa Kelelawar di dekat sana, hmm„ gelap dan agak magis suasananya. Jadi teringat adegan Naya dari MBDC nangis waktu masuk ke goa pindul..



Puncak dari trip ini bagi saya adalah ketika menapaki satu persatu tangga di kapal phinisi yang sedang dibuat. Meskipun bukan ke Tanaberu melainkan ke Panrang Luhu, tetapi benda satu ini sukses membuat saya terharu dan hampir menangis ketika sampai di Anjong Phinisi seharga 2,5 M tersebut. Inilah salah satu tujuan saya jauh-jauh ke Bira, untuk menyaksikan langsung pembuatan kapal legendaris nusantara sekaligus mendengarkan sejarahnya dari masyarakat setempat. Entah memang sudah kontak batin, sebelumnya saya ingin mengunjungi tempat ini bersama ibunda tercinta, saat saya sedang berusaha berdiri mantap di Anjong (segitiga di depan yang berfungsi sebagai penyeimbang) sambil menatap matahari tepat di depan kapal, tetiba saja mama menelpon dan langsung saya berteriak haru pada mama, “Maaaaaaaah, vella sedang di atas kapal phinisi maaaaaaaaah.. Dua tahun lagi saat kapal ini sudah jadi, kita berlayar bersama di kapal ini ya maaaaah…” ah melow sekali saya hari itu..






tampak atas bagus, kalau lihat ke bawah, serem!

di Anjong Phinisi. finally! XD

siap berlayar…

Sepuasnya mengamati proses pembuatan kapal phinisi, kami langsung menuju pantai Bara, pantai paling tenang dan paling cocok suasananya buat ngegalau sendirian. Niat awalnya saya hanya ingin duduk di tepi pantai di bawah pohon kelapa sambil membaca buku atau sekedar berkeliling menyusuri tepi pantai dari Bara ke Bira. Tapi ternyata trip rame-rame malah lebih seru.. :))


Mendapati cacing laut terbuat dari pasir di jernihnya air Bara dan nyemil buah Bakdo (makanan monyet di sana) yang diambil mas Indis langsung manjat dari pohonnya, tak sabaran kami langsung menuju Bira tuk menyeberang ke Pulau Liukang Loe. Sekitar 30 menit di tengah laut speedboat berhenti, kami menceburkan diri di tengah lautan yang airnya sangaaaaat jernih..



Mas Indis yang udah jago diving mulai beraksi dan mengambil gambar, kami-kami yang snorkeling saja masih amatiran cuma bisa gigit jari melihat aksi guide kami tersebut.

baru nyebur. masih cemen.



bintang laut pertama!

akhirnya bisa berenang bareng nemo :))

peserta Jalan2Meng snorkeling tepat di bawah matahari..
Awalnya masih pada pakai life jacket, 30 menit kemudian udah pada ga tahan pingin nyelam, akhirnya life jacket pun di tinggal di permukaan, hihi

mas indis

me

icang

chya

gugun


edi

nemu sotong kayak karang..

bintang laut kedua! :))
2 Jam snorkeling tengah hari ternyata lelah juga, meskipun paginya sudah disuguhi Coto Bira yang lebih kental dari Coto Makassar dengan cita rasa yang memang asik tur nikmat di lidah. Kami pun mulai menepi di Pulau Liukang Loe untuk beristirahat sejenak sembari menikmati degan dengan view yang akan sangat jarang saya temui ketika kembali ke Jogja. Sebelum merapat di daratan, mas Indis yang sangat peka dengan hewan laut tetiba menemukan sotong segede paha babon yang warna dan strukturnya menyerupai karang, setelah disentuh, sotong tersebut berubah warna dari coklat terang menjadi kuning, hijau lalu ia terbang di air. Sungguh pemandangan yang sangat indah, untuk kali pertama bagi saya. This trip is incredibly awesome!

Perjalanan ini pun semakin sempurna dengan canda tawa dan rasa yang terjalin satu sama lain. Saya sungguh bersyukur telah ditemani ngetrip bersama orang-orang spesial seperti mereka. Terima kasih banyak Gugun, Chya, Edi, Icang juga Mas Wisnu. Tanpa kalian trip ku ke Makassar akan menjadi trip penggalauan semata kayaknya, hehe
Malam selanjutnya saya menginap di rumah Puang. Suasana yang sangat kontras, dari begajulan bareng teman sepantaran berubah menjadi kumpul keluarga angkat bersama adik-adik kecil hingga kakek nenek. Saya pun diceritakan sejarah silsilah keluarga mereka yang masih merupakan turunan dari percampuran Raja Bone dan Gowa, serta kerajaan lainnya. Saya yang tak paham silsilah keluarga sendiri jadi minder dibuatnya.

Saat ingin beristirahat, tetiba saya diberi gelang, untuk ngejagain katanya. Saya juga diberi pesan jika nanti malam ada yang mengetuk pintu ga usah dibuka. Ah entahlah, sudah terlahir di dunia fasik begini saya tak terlalu paham dengan dunia yang begituan, tapi tetap saja gelang itu saya pakai, soalnya saya ga punya gelang, hehe.
Karena puang tau saya sedikit bertanya-tanya tentang ada apa ini akhirnya puang menemani saya tidur di kamarnya Nisa. Pukul satu malam, saat saya sedang pulas-pulasnya, tetiba puang berbicara dengan entah siapa yang baru saya dapati ceritanya keesokan harinya. Kata puang, semalam ada leluhurnya yang masuk ke kamar dan ingin melihat saya sebagai orang baru di rumah tersebut, puang pun melarang mereka tuk mengganggu saya, namun mereka berkata..
“kami bukan mau mengganggu, kami hanya ingin tau dan kenal, kami suka dengan anak ini karena dia rajin sholat..”
saat puang berbicara begitu saya langsung menelan ludah, rasanya sangat tertohok. rajin sholat? wallahualam dah..
intinya alhamdulillah saya bisa diterima dengan baik oleh keluarga angkat saya tersebut entah oleh yang tampak maupun yang tidak. katanya saya ada turunan ningrat juga, dari Kerajaan Sriwijaya entah Srunti atau apa namanya. Hal ini diketahui saat leluhur puang bertemu dengan leluhur ibu saya dari sang kakek yang sejak lahir saya tak pernah jumpa. Katanya ada 3 orang leluhur mama yang selalu menjaganya, sehingga bagi mereka kami bukan orang biasa. Hmm„ entah mau percaya atau tidak saya sendiri terkaget-kaget mendengar penjelasan puang tersebut. Darah ningrat? kakeknya kakekku saja saya tak tahu. Rasanya sejarah hidup saya berubah dalam sehari setelah mendapat teaser silsilah keluarga saya malah dari turunan kerajaan Bone dan Gowa. What a serendipity!
Terlepas dari itu semua saya ingin mengucapkan banyak terima kasih untuk semua orang yang telah menemani, membantu dan memberi banyak hal pada saya selama menginjakkan kaki di celebes island. Untuk puang dan tante timang sekeluarga, terima kasih banyak untuk kasih sayang tak terduga, akhirnya saya bisa merasa punya nenek dan kakek lagi :))
Untuk Chya, makasih banyak atas tumpangan, waktu dan kerepotan yang dirimu luangkan bagi kami. Dari testimonimu di twitter kami tahu kamu senang kami repotin, hihi
Buat Icang, karyamu keren lho, lebih keren lagi kalo kamu berani ngomong ga cuma senyam senyum doang bikin orang penasaran. ditunggu film trip ini yaaaa :p
Buat Edi dan Mas Wisnu, kalian saudara persepupuan yang keren! harus aku akui, aku iri sama kekompakan kalian! makasih ya untuk trip menyenangkannya! hehe
At last, buat Gugun, Jebraw wannabe, thanks ya bero udah nemenin ngetrip dari awal ampe akhir, gue akui deh kalo lo partner trip tergokil yang pernah nemenin gue. Jangan kapok yee nurutin maunya gue buat kesana kemari, oke Gung! ;))

Di hari raya April Mop saya pulang ke Jogja via Surabaya. April Mop! haha ga deng beneran pulang :|
Di Surabaya mampir bentar ketempat Ida - konco EME yang sekarang kuliah nyambi kerja di bank, gaul tenan saiki koe da! Suwun yo sudah diajak muter2 Surabaya di malam hari :D
Finally, naskah Jalang2Meng Ed. 1 sudah selesai. BAHAGIA DARI PERJALANAN INI SUNGGUH TERLALU X)) Ini post terpanjang yang pernah saya buat di tumblr. Yang panjang emang lebih seruuu! hahaha
So, Sampai jumpa di Jalang2Meng edisi berikutnyaaaa XD

Bersenang-senanglah,
Karena hari ini akan kita rindukan, di hari nanti…
-Sheila On 7
(p.s photos taken by gugun, chya, edi, icang, mas wisnu, mas indis and me)